Secara bersamaan, Indonesia mencatatkan deflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan (month to month/MtM), setelah sebelumnya mencatat inflasi 0,44 persen pada Mei 2026.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Juli 2026, Indonesia mencatatkan inflasi 2,88 persen secara tahunan. Lalu, secara tahun kalender terjadi inflasi 1,65 persen (year to date/YtD), penyebabnya adalah terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen dari 111,89 pada Juni 2026 menjadi 111,73 pada Juli 2026.
Kelompok pengeluaran penyumbang terbesar atau faktor penyebab deflasi Juli 2026 kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan deflasi 0,89 persen dengan andil deflasi 0,26 persen.
Adapun kelompok penahan deflasi terbesar adalah transportasi dengan inflasi sebesar 0,52 persen dan andil inflasi 0,06 persen. Adapun komponen yang menyumbang inflasi pada kelompok ini adalah bensin (0,08 persen), sepeda motor dan pelumas (0,01 persen).
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.990-Rp18.040 per dolar AS.