Teheran telah memperingatkan bahwa aksi militer AS yang berkelanjutan dapat memicu serangan lebih lanjut yang memengaruhi infrastruktur energi regional.
Kenaikan harga minyak mentah berdampak pada pasar keuangan yang lebih luas, menekan pasar saham dan meningkatkan kekhawatiran inflasi karena investor menilai kembali potensi dampak kenaikan biaya energi terhadap pertumbuhan global dan kebijakan bank sentral.
Dari sentimen domestik, menurut Ibrahim pasar merespon positif setelah S&P Global Ratings memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5 persen setiap tahunnya sampai dengan tiga tahun ke depan di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Lembaga pemeringkat ini mempertahankan peringkat kredit Indonesia dalam kategori layak investasi BBB dengan prospek tetap Stabil.
S&P menyampaikan bahwa peringkat kredit Indonesia bertahan di BB Bberkat prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat. Hal ini terefleksikan dari pengaturan kebijakan ekonomi makro yang bijak, serta beban utang eksternal maupun pemerintah yang relatif lebih ringan dibandingkan dengan negara-negara berperingkat sesama BBB.
Pertumbuhan ekonomi ini didorong oleh belanja fiskal dan kebijakan penghiliran (hilirisasi), yang tidak lepas dari sentimen terhadap eksekusinya.