JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah menyentuh Rp17.812 per dolar AS pada perdagangan Selasa (26/6/2026), menurut data Bloomberg. Merespons hal itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menekankan akan memperkuat pasar obligasi sebagai upaya mitigasi pemerintah.
Purbaya juga sempat berkelakar saat menjawab pertanyaan awak media soal adakah stressing atau penekanan kebijakan baru yang akan diambil pemerintah.
"Ya saya stress. Enggak (tidak ada stressing berarti), kami sudah hitung. Pada waktu simulasi harga minyak dunia mencapai 100 dolar AS per barel itu, asumsi rupiahnya juga sudah kami perhitungkan. Jadi enggak ada masalah, saya enggak harus hitung ulang APBN-nya," ucap Purbaya di Kompleks Ditjen Pajak Kemenkeu, Jakarta, Rabu (27/5/2026).
Purbaya membedah lebih lanjut mengenai kondisi pasar modal di tengah pelemahan mata uang Garuda. Dia mengungkapkan fenomena menarik di mana bond yield (imbal hasil obligasi) justru mengalami penurunan.
Hal ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan hasil dari langkah proaktif institusi yang melakukan aksi beli di pasar surat utang guna mengendalikan tingkat imbal hasil agar tetap kompetitif.
Di balik pelemahan nilai tukar tersebut, indikator pasar surat utang nasional justru menunjukkan performa yang cukup menggembirakan bagi stabilitas makro. Penjagaan pada pasar obligasi ini dianggap vital untuk memastikan kepercayaan pemodal internasional tetap terjaga dan aliran modal tidak tersendat.
"Tapi gini, walaupun rupiah melemah, kan bond yield-nya turun karena aksi dari pemerintah, aksi dari teman-teman kita di bendahara, untuk sedikit membeli, supaya yield-nya agak terkendali. Selama bond market terkendali, kemampuan investor asing untuk melakukan investasi dan bond kita akan terjaga juga," jelas Purbaya.