Dari faktor internal, sentimen penekan rupiah bersumber dari risiko fiskal APBN akibat tren kenaikan harga minyak mentah dunia, kendati pemerintah telah menjamin stok bahan bakar bersubsidi aman untuk 16 hingga 18 hari dan persediaan BBM jenis lainnya berada di atas ketentuan minimum.
Efektivitas stabilisasi kurs dinilai sangat bergantung pada ketatnya pengawasan penyaluran BBM bersubsidi agar tepat sasaran, pengendalian konsumsi, hingga evaluasi berkala terhadap realisasi anggaran subsidi dan kompensasi energi.
"Kecukupan stok BBM memang menjamin ketahanan pasokan jangka pendek, tetapi keberlanjutan subsidi tetap membebani kapasitas fiskal negara jika harga minyak dunia terus menanjak," kata Ibrahim.