"Kondisi konflik Timur Tengah ini menjaga harga minyak tetap tinggi di atas 115 dolar AS per barel, yang secara langsung meningkatkan risiko fiskal ke depan serta mendongkrak ekspektasi kenaikan suku bunga AS," tuturnya.
Selain itu, meningkatnya sentimen penghindaran risiko (risk-off) di pasar keuangan global turut mendorong penguatan dolar AS dan memicu arus modal keluar (capital outflow) dari negara-negara berkembang. Tekanan juga dipengaruhi kenaikan imbal hasil (yield) obligasi global.
Di dalam negeri, kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi penurunan status klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI serta meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) korporasi menjelang akhir bulan turut menambah tekanan terhadap pergerakan rupiah.
"Sentimen risk-off yang memburuk bersamaan dengan kekhawatiran atas potensi penurunan klasifikasi MSCI dan peningkatan kebutuhan valas domestik akhir bulan turut menambah tekanan terhadap pergerakan dana," ucap Erwin.
Meski demikian, BI menyebut pelemahan rupiah sebesar 1,15 persen secara bulanan masih sejalan dengan dinamika mata uang negara-negara di kawasan. Ketahanan eksternal Indonesia juga didukung cadangan devisa yang tercatat sebesar 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026.
Untuk meredam volatilitas nilai tukar, BI terus mengoptimalkan bauran instrumen stabilisasi, termasuk melalui koordinasi dengan korporasi dan pelaku pasar keuangan.
"Langkah stabilisasi kami lakukan secara konsisten melalui transaksi NDF, DNDF, dan pasar spot, serta pembelian SBN di pasar sekunder yang dibarengi koordinasi intensif bersama korporasi dan pelaku pasar," tuturnya.