"Yang paling menantang adalah kita tidak pernah melihat medannya seperti apa, kemudian kami pada saatnya berangkat itu sudah di-warning bahwa daerah itu adalah daerah operasi dan itu sedang aktif daerahnya sehingga kemungkinan besar terjadinya jamming radio, jamming navigasi itu itu sangat mungkin terjadi," kata dia.
"Dan itu terjadi, jadi untuk itu kemarin kami sudah siap dengan segala pola operasinya sehingga kami juga kemarin menerbangkan pesawat ini secara manual. Terutama di GPS, GPS-nya suddenly hilang, sehingga kita harus mapping secara manual, kemudian menerbangkan secara konvensional, itu saja," sambungnya.
Noto mengakui ada kekhawatiran dalam menjalankan misi kemanusiaan itu. Namun demikian, prajurit TNI memegang teguh kepercayaannya masing-masing.
"Ya pasti ada, khawatir itu pasti ada. Tapi niat kami baik, untuk memberikan bantuan kemanusiaan, lillahi taala pasti itu akan mendapatkan keselamatan dari Tuhan yang maha kuasa," katanya.