Pemerataan Kemampuan Hidup Sehat
Dalam kerangka keadilan sosial, kebijakan gizi publik seperti MBG perlu dipahami bukan sekadar sebagai program bantuan, melainkan sebagai instrumen pemerataan kemampuan hidup sehat. Soedjatmoko, dalam Etika Pembebasan, mengingatkan bahwa pembangunan yang adil diukur dari sejauh mana kebijakan publik memperluas kapasitas manusia untuk hidup bermartabat.
Dalam konteks kesehatan, pemikiran ini sejalan dengan konsep Paradigma Sehat yang dikemukakan Achmad Sujudi, yang menempatkan kesehatan sebagai hasil interaksi antara kebijakan, lingkungan sosial, dan perilaku masyarakat.
Artinya, keadilan sosial dalam program gizi tidak berhenti pada pembagian makanan, tetapi mencakup jaminan keamanan, mutu, relevansi budaya, serta penguatan kemampuan individu dan keluarga untuk membuat pilihan gizi yang lebih sehat. Tanpa dimensi ini, kebijakan berisiko tereduksi menjadi pencapaian administratif, alih-alih pemenuhan hak atas kesehatan sebagaimana diamanatkan sila kelima Pancasila.
Edukasi dan Promosi Gizi: Penguat Dampak Jangka Panjang
Dari sisi keluarga, temuan bahwa sebagian orang tua masih harus mengeluarkan biaya tambahan karena anak tidak selalu mengonsumsi makanan yang disediakan memberi sinyal penting. Intervensi gizi tidak berlangsung dalam ruang hampa. Preferensi anak, kebiasaan makan di rumah, serta pemahaman orang tua tentang gizi sangat memengaruhi efektivitas program. Tanpa keterlibatan keluarga, manfaat MBG akan sulit optimal.
Di titik inilah MBG perlu dipahami sebagai instrumen perubahan perilaku gizi, bukan sekadar program pemberian makanan. Dalam pendekatan kesehatan masyarakat, intervensi pangan yang tidak disertai edukasi gizi berkelanjutan cenderung menghasilkan dampak yang terbatas. Literasi gizi, peran guru sebagai agen promosi kesehatan, serta komunikasi yang konsisten dengan orang tua menjadi kunci agar manfaat MBG tidak berhenti pada konsumsi sesaat.
Evaluasi satu tahun MBG seharusnya dibaca sebagai bagian dari siklus kebijakan publik yang sehat. Keberhasilan kebijakan kesehatan tidak diukur dari besarnya cakupan semata, melainkan dari kesesuaiannya dengan bukti ilmiah, konteks sosial, dan kapasitas sistem pendukungnya.
Pada akhirnya, keberhasilan MBG tidak ditentukan oleh berapa juta porsi makanan yang dibagikan, tetapi oleh apakah anak-anak Indonesia tumbuh lebih sehat, lebih sadar gizi, dan membawa kebiasaan makan yang lebih baik hingga dewasa. Di situlah ukuran sejati pembangunan kesehatan generasi mendatang.