JAKARTA, iNews.id - Kementerian Kesehatan mengeluarkan data terbaru terkait kasus campak yang saat ini mewabah di Indonesia. Sebanyak 72 anak meninggal dunia dalam periode 2025-2026.
Campak disebabkan oleh virus morbillivirus yang sangat mudah menular melalui udara, seperti percikan batuk atau bersin. Penyakit campak bahkan disebut lebih menyebar daripada Covid-19.
Ya, satu orang pasien campak bisa menularkan virus ke 18 orang di sekitarnya. Sementara itu, pada kasus Covid-19, satu pasien menularkan virus ke 3-5 orang.
Campak merupakan infeksi saluran pernapasan yang tergolong mematikan, karena dapat menimbulkan komplikasi berat, seperti gagal napas akibat radang paru-paru, kejang akibat radang otak, hingga dehidrasi.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melaporkan, pada sejak 1 Januari hingga 23 Februari, ditemukan 8.224 kasus campak di Indonesia. Pada periode yang sama, sudah dilaporkan 21 kejadian luar biasa (KLB) suspek campak di 17 kabupaten/kota di 11 provinsi.
Dari jumlah tersebut, 13 KLB campak di 6 provinsi telah terkonfirmasi laboratorium. Lima KLB campak terbanyak di antaranya:
1. Sumatera Barat
2. Sumatera Selatan
3. DI Yogyakarta
4. Jawa Barat
5. Jawa Tengah
Dari 8.224 kasus suspek campak itu, baru 572 kasus terkonfirmasi, dengan 4 kematian. Hal ini terjadi karena kapasitas laboratorium Indonesia 'overwhelmed' memeriksa ribuan spesimen yang masuk.