Pertemuan tersebut akan melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Gubernur Kalbar, Kapolda, dan Pangdam.
“Oleh karena itu besok, kami ke Pontianak untuk bertemu kembali dengan seluruh stakeholder yang ada, dengan Pak Gubernur, Kapolda, Pangdam ya, merapatkan barisan kembali, melakukan evaluasi sekaligus membuat rencana apa yang bisa kita lakukan untuk mitigasi,” kata dia.
Menurutnya, koordinasi tersebut diperlukan untuk kembali menekan jumlah hotspot maupun fire spot yang telah diverifikasi.
“Dan memastikan kembali, mendorong kembali agar angka baik itu apa namanya hotspot maupun fire spot yang sudah diverifikasi dapat turun. Jadi dua itu ya yang masih jadi masalah,” ucapnya.
Selain Kalbar dan Kalteng, kenaikan titik api juga terjadi di sejumlah provinsi lain berdasarkan data Sipongi per 1 September 2026.
Sumatera Selatan tercatat naik dari 20 menjadi 89 titik, sedangkan Kalimantan Selatan meningkat dari 22 menjadi 73 titik. Sementara itu, Jambi yang sebelumnya tercatat nihil hotspot kini memiliki 4 titik. Adapun Riau masih berada di angka 0 titik api.