Tren penurunan ini selaras dengan pergerakan harga minyak acuan dunia lainnya, seperti Brent ICE yang turun ke posisi 84,98 dolar AS per barel, serta WTI Nymex yang berada di level 82,41 dolar AS per barel.
Untuk periode Juli 2026, pemerintah memproyeksikan harga ICP akan berada pada kisaran 67 dolar AS hingga 71 dolar AS per barel. Meski demikian, proyeksi tersebut masih bersifat dinamis dan bergantung pada perkembangan situasi geopolitik serta keseimbangan pasokan dan permintaan di pasar internasional.
Laode menegaskan pemerintah akan terus memantau ketat kondisi pasar untuk menjaga ketahanan energi nasional.
“Pemerintah memastikan formula ICP tetap transparan dan akuntabel mencerminkan dinamika pasar internasional,” katanya.
Pemerintah, disebutnya, bakal menjadikan faktor geopolitik, suplai, serta permintaan sebagai acuan utama dalam menetapkan arah harga minyak mentah Indonesia pada periode Juli 2026 mendatang.