Setelah mendapat kecabangan penerbang pada tingkat satu pendidikannya di Akmil, Fajar kian bertekad ingin membuat perubahan. "Dengan Korps Penerbangan, saya ingin membuktikan bahwa semua kecabangan mampu bersaing dan berbuat yang terbaik. Setiap tahapan pasti ada kendala. Namun, bagaimana kita bisa memanfaatkan sebuah kendala itu menjadi peluang, dan setiap kendala, saya serahkan semuanya kepada Yang Mahakuasa," tuturnya. Ke depan, dengan menyandang penghargaan Adimakayasa, Fajar berharap menjadi perwira penerbang yang dapat berkarier maksimal dan berprestasi.
Melalui saluran telepon, ayahanda Fajar, Mayor Inf (Purn) Kasiyadi, mengatakan bahwa setiap orang tua pasti akan melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya. Itu pula yang dia dan istri lakukan untuk Fajar. "Alhamdulillah, Allah memberikan kemudahan. Selaku orang tua, kami hanya mengantarkan sesuai yang Fajar inginkan, dan alhamdulillah dia bisa lancar sampai akhir pendidikan," tutur Kasiyadi.
Fajar, kata dia, memang anak yang baik. Sebagai orang tua, Kasiyadi tidak pernah merasa dibebani oleh sang putra. Dia pun berharap, jadi apa pun anak-anaknya kelak, tetap menjadi anak yang saleh; berbakti kepada orang tua, serta bangsa dan negara sesuai pilihan profesi masing-masing.
Berbeda dengan Dewi Okta Pusparini. Gadis kelahiran 23 Oktober 1996 itu menghabiskan masa sekolahnya di tanah tumpah darahnya yaitu Pati, Jawa Tengah. Ayah Dewi, Pariyo, bekerja sebagai PNS. Sementara, ibunya berprofesi sebagai ibu rumah tangga.
Dewi mengatakan, selepas SMA, dia sudah lulus seleksi SNMPTN di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogayakarta. Namun dia memiliki cita-cita yang lain: mendaftar ke Akmil dan ternyata diterima.