“Saya baru membaca buku itu secara utuh sampai selesai. Apa yang saya sampaikan dalam wawancara tersebut merupakan pandangan saya dan tentu dapat saya pertanggungjawabkan secara akademik,” katanya.
Yusril berpandangan, secara umum tidak ada persoalan mendasar dengan isi buku tersebut. Menurutnya, perhatian dan perdebatan yang muncul belakangan ini lebih banyak dipicu oleh judul Islam ala Prabowo yang dapat menimbulkan berbagai macam persepsi dan tafsir.
“Kalau saya ditanya mengenai judulnya, saya tidak tahu karena memang tidak pernah diajak membicarakannya. Kalau judulnya misalnya ‘Prabowo dan Islam’, menurut saya akan lebih mudah dipahami sebagai pembahasan mengenai hubungan Prabowo dengan Islam,” ujar Yusril.
Dia menilai, perdebatan mengenai buku tersebut juga perlu ditempatkan dalam konteks kebiasaan masyarakat saat ini dalam mengonsumsi informasi. Menurutnya, banyak orang cenderung melihat judul sebagai representasi keseluruhan isi tanpa meluangkan waktu untuk membaca dan memahami buku secara utuh.
“Sekarang orang cenderung tidak sabar membaca buku yang cukup panjang. Judulnya dibaca, lalu dianggap sudah mewakili seluruh isi buku. Setelah itu orang memberikan penilaian berdasarkan sudut pandangnya sendiri, bahkan tidak jarang berdasarkan kepentingannya sendiri,” kata Yusril.
Sebagai informasi, buku Islam ala Prabowo diluncurkan dalam rangkaian Rakornas Baznas 2025 di Jakarta pada 26 Agustus 2025. Dalam keterangan Baznas dan pemberitaan saat peluncuran, penulisan buku tersebut disebut diinisiasi Ketua MPR Ahmad Muzani bersama Ketua MUI KH Anwar Iskandar.