Jadi Perbincangan Publik, Luhut Sebut Baterai LFP Belum Bisa Didaur Ulang

Muhamad Fadli Ramadan
Menko Luhut mengungkapkan baterai berbasis nikel bisa didaur ulang, sedangkan baterai LFP masih belum bisa didaur ulang. (Foto: Reuters/Rebecca Cook)

Baterai NMC sebenarnya lebih disukai oleh produsen mobil. Sayang, bahan baku yang digunakan memiliki harga yang mahal, dan terbatas pasokannya, termasuk kobalt, nikel, dan litihum.

Kekhawatiran mengenai ketersediaan material, sumber daya, dan biaya telah mendorong banyak produsen mobil beralih ke LFP bebas kobalt dan nikel. Hasilnya, penggunaan baterai LFP meningkat sejak 2020.

Untuk itu, Luhut meminta semua pihak bisa menjaga pasokan nikel agar harga jualnya tidak terlalu tinggi. Menurutnya, hal tersebut bisa berbahaya karena tidak ada lagi produsen baterai yang ingin menggunakan nikel.

“Kalau harga nikel terlalu tinggi sangat berbahaya. Kita belajar dari kasus cobalt tiga tahun lalu di mana harganya terlalu tinggi. Sehingga orang mencari bentuk baterai lain. Ini salah satu pemicu lahirnya lithium ferro phosphate (LFP),” kata Luhut.

“Jadi, jika kita bikin harga itu (nikel) ketinggian orang akan cari alternatif lain. Perkembangan teknologi itu sangat cepat,” ujarnya.

Editor : Dani M Dahwilani
Artikel Terkait
17 hari lalu

Bansos Digital Berbasis AI Tak Bisa Dipakai Sembarangan! Hanya untuk Listrik, Beras dan Bensin

17 hari lalu

Luhut Ungkap Jurus Cegah Bansos Berbasis AI Dipakai Judol, Siapkan Opsi Kupon Digital

18 hari lalu

Bansos Digital Berbasis AI Segera Diluncurkan, Luhut: Tidak Boleh Judi Online!

18 hari lalu

Luhut Ungkap Bansos Berbasis AI Diluncurkan Oktober 2026, 50 Juta Warga Jadi Sasaran

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal