"Secara filosofi kan PHEV ini bekerja 85 persen elektrik. Sisanya adalah support engine yang ditenagai oleh gasoline. Artinya electrify first, electrification first. Sehingga BYD sangat merekomendasikan kita memprioritaskan adanya optimalisasi di kapasitas baterai terlebih dahulu," ujarnya.
Sementara itu, Head of Product BYD Indonesia Bobby Barata mengatakan penggunaan mesin bensin pada BYD M6 DM sebenarnya tidak harus sering dilakukan. Dia menyebut di China pengguna kendaraan DM dalam waktu lama tetap mengandalkan tenaga listrik.
"Engine ini enggak nyala sama sekali sebetulnya ini sudah ada contoh case di China memang seperti itu. Orang di China beli DM memang tujuan utamanya adalah dipakai terus, bahkan ada sampai setahun bahkan lebih dia enggak pernah pakai bensinnya sama sekali. Itu sudah terjadi dan memang itu teknologinya kita bawa ke Indonesia," katanya.
Dari sisi efisiensi, kendaraan dengan teknologi Dual Mode (DM/Hybrid EV) menawarkan biaya operasional yang lebih rendah dibandingkan kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE). Biaya penggunaan energi disebut berada di kisaran Rp360–Rp416 per kilometer, sementara kendaraan konvensional mencapai sekitar Rp967 per kilometer.
Bobby menyebutkan untuk jarak tempuh 150 kilometer, penghematan biaya dapat mencapai sekitar 63 persen, yakni dari Rp145.000 pada kendaraan konvensional menjadi sekitar Rp53.278 menggunakan teknologi DM. Efisiensi bahan bakarnya juga diklaim mencapai 65 kilometer per liter, atau sekitar empat kali lebih hemat dibandingkan mesin konvensional.