JAKARTA, iNews.id – Departemen Perhubungan Amerika Serikat (Department of Transportation/DOT) tengah mempertimbangkan penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat proses penyusunan peraturan federal. Langkah ini diklaim mampu memangkas waktu penulisan regulasi dari hitungan bulan atau tahun menjadi hanya beberapa menit, namun memicu kekhawatiran serius soal keselamatan dan kualitas aturan.
Dilansir dari Carscoops, Wacana tersebut mencuat setelah laporan ProPublica mengungkap rencana pemerintahan Presiden Donald Trump memanfaatkan AI untuk “merevolusi cara penyusunan peraturan”. Teknologi ini disebut dapat membantu aparatur negara bekerja lebih cepat dan efisien dalam merumuskan kebijakan.
Namun, rencana itu langsung memicu alarm dari berbagai pihak. Salah satu sorotan utama tertuju pada pernyataan penasihat umum DOT, Gregory Zerzan, yang dinilai lebih mengutamakan kecepatan dan kuantitas ketimbang kualitas regulasi.
Dalam laporan tersebut, Zerzan menyatakan, “Kita tidak membutuhkan aturan yang sempurna tentang XYZ. Kita bahkan tidak membutuhkan aturan yang sangat baik tentang XYZ. Kita menginginkan yang cukup baik. Kita membanjiri zona tersebut.”
Pernyataan ini menimbulkan kekhawatiran aturan yang dihasilkan berpotensi asal-asalan, terutama untuk lembaga federal yang berkaitan langsung dengan keselamatan publik.
ProPublica juga melaporkan DOT mempertimbangkan penggunaan Gemini, model AI milik Google, untuk membantu menyusun rancangan peraturan. Teknologi ini disebut mampu menghasilkan draf regulasi hanya dalam hitungan detik hingga menit, jauh lebih cepat dibanding proses konvensional.