"Mobil listrik bekas memang mulai dilirik konsumen, tetapi sejauh ini pilihannya masih sangat selektif. Konsumen biasanya lebih banyak menggali informasi soal kondisi baterai, biaya perawatan dan penggunaan hariannya," ujarnya.
Kondisi tersebut berbeda dengan mobil konvensional bekas yang sudah lebih lama dikenal masyarakat. Konsumen umumnya telah memiliki gambaran mengenai biaya servis, ketersediaan suku cadang dan tempat perawatan kendaraan.
"Di sisi lain, mobil konvensional bekas masih memiliki pasar dan tingkat kepercayaan yang lebih kuat karena konsumen sudah lebih familiar dengan biaya perawatan, ketersediaan suku cadang maupun layanan servisnya," kata Ferdian.
Karena itu, harga murah belum tentu menjadi satu-satunya alasan konsumen memilih mobil listrik bekas. Kondisi baterai, biaya pemakaian, riwayat kendaraan, garansi dan kebutuhan penggunaan sehari-hari ikut menentukan keputusan.
Bagi calon pembeli, mengecek kondisi mobil secara menyeluruh menjadi langkah penting sebelum melakukan transaksi. Dengan begitu, harga yang terlihat lebih terjangkau sejak awal tetap sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan selama kendaraan digunakan.