Meski memiliki tantangan, Dr Leopold menegaskan berbagai hasil pengujian menunjukkan campuran biodiesel berkadar tinggi masih dapat digunakan pada mesin diesel modern tanpa menimbulkan penurunan performa yang signifikan.
"Berbagai pengujian kendaraan menunjukkan campuran biodiesel berkadar tinggi masih dapat digunakan pada mesin diesel modern tanpa penurunan performa yang berarti selama ribuan kilometer pengujian," katanya.
Namun, dia mengingatkan hasil tersebut umumnya diperoleh menggunakan bahan bakar yang masih segar. Kondisi itu belum sepenuhnya menggambarkan kualitas biodiesel setelah melalui proses penyimpanan dan distribusi dalam jangka waktu yang lama.
Sebab itu, implementasi biodiesel B50 memerlukan pengujian jangka panjang serta pemantauan berkala. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan kualitas bahan bakar tetap terjaga sekaligus menjaga keandalan mesin kendaraan yang menggunakannya.
Selain berdampak pada sektor otomotif, penggunaan biodiesel B50 juga berpotensi menekan emisi GRK dibandingkan solar fosil. Meski begitu, manfaat lingkungan tersebut hanya dapat diperoleh apabila produksi biodiesel dilakukan secara berkelanjutan tanpa melibatkan konversi lahan berstok karbon tinggi seperti hutan maupun lahan gambut.
Dr Leopold menilai keberhasilan implementasi B50 membutuhkan dukungan semua pihak, mulai dari pemerintah, industri otomotif, produsen bahan bakar, akademisi, hingga masyarakat. Dengan begitu, biodiesel dapat menjadi teknologi transisi menuju sistem transportasi yang lebih rendah emisi sekaligus mendukung target net zero emission (NZE) Indonesia pada 2050–2060.