“Tapi ketika tahun 60-an akhir itu ada krisis minyak, tiba-tiba mereka shifting. Yang tadinya mobil-mobil besar, mobil-mobil boros, justru mobil-mobil Jepang yang kecil-kecil yang hemat bahan bakar itu malah jadi laku di sana,” ujarnya.
Ridwan menilai kondisi serupa kini kembali terjadi. Hanya saja, pergeseran kali ini mengarah pada penggunaan energi terbarukan dan kendaraan listrik sebagai solusi masa depan menghadapi ancaman krisis energi global.
Tak hanya membahas perkembangan teknologi otomotif, Ridwan juga mengapresiasi antusiasme mahasiswa UNS dalam mengikuti sesi diskusi tersebut. Menurut dia, generasi muda saat ini sudah memiliki pemahaman yang cukup baik terkait kendaraan listrik dan isu energi berkelanjutan.
“Saya senang banget karena ketika mereka itu sudah memiliki pengetahuan dan antusiasme tentang masa depan itu adalah menjadi pijakan yang baik untuk mereka ketika mereka akan mengambil spesialisasi atau mereka ingin bekerja di dunia industri ke depannya,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Ridwan turut berpesan agar mahasiswa tidak cepat merasa puas dengan ilmu yang dimiliki saat ini. Dia menegaskan bahwa perkembangan teknologi, terutama di industri otomotif, bergerak sangat cepat dan terus berubah mengikuti zaman.
Menurut dia, kemampuan membaca tren masa depan menjadi hal penting agar generasi muda tidak tertinggal dan mampu bersaing di dunia industri yang semakin kompetitif.
“Kalau kita tetap stuck dengan pengetahuan kita sekarang, kita akan ketinggalan. Jadi, jangan pernah merasa cukup, selalu belajar dan selalu bisa memikirkan dan memprediksi tentang masa depan. Sehingga ketika masa depan itu datang kita udah enggak kaget lagi, kita sudah siap semuanya,” pungkasnya.