WOLFBURG, iNews.id - Banyak produsen mobil yang menjanjikan kendaraan otonom dalam beberapa tahun ke depan. Seperti General Motors (GM) yang akan memproduksi kendaraan self driving pada 2019. Namun, target ambisius tersebut tidak semudah yang dipikirkan karena berbagai macam alasan.
Dilansir dari Carscoops, Selasa (20/3/2018), dalam laporan komprehensif ahli meteorologi ruang angkasa mengungkapkan, bagaimana mobil tanpa awak di masa depan akan menghadapi ancaman badai matahari.
Badai matahari memang hanya terjadi sesekali. Namun, dampak yang diberikan dapat menghasilkan lonjakan besar aktivitas geomagnetik dan radiasi. Pengaruhnya terhadap mobil tanpa sopir adalah bisa menyebabkan kekacauan pada sistem GPS yakni terputusnya sistem dengan satelit. Ketika itu terjadi, maka sistem pada mobil otonom akan kacau sehingga sangat berbahaya.
Menurut Scott McIntosh, direktur observastium high-altitude di National Center for Atmospheric Research di Boulder, Colorado, penggunaan GPS dalam pemrograman mobil tanpa sopir dari Point A ke Point B adalah sebuah masalah.
Untungnya, ada sistem untuk menghindari ancaman bencana badai matahari, yakni dengan mengandalkan informasi dari satelit yang bertindak sebagai titik peringatan saat badai matahari akan datang. Ini biasanya memberikan peringatan ke Bumi 30 sampai 60 menit sebelum badai matahari menghantam planet ini.
Direktur Senior Otomotif Nvidia Corp, Danny Shapiro mengatakan, mobil tanpa sopir juga memiliki cukup redundansi untuk menarik dan menghentikan jika terjadi sesuatu seperti badai matahari.
Jadi, para pembuat mobil otonom memiliki cukup waktu untuk mempelajari bagaimana cara menghadapi bencana seperti badai matahari di masa depan.