Perwakilan Departemen Perindustrian saat itu tertarik pada Maryamu dan mengajaknya keliling keluar daerah mulai dari Padang, Palembang, sampai ke Bali, untuk belajar lebih serius tentang tata cara menenun. Sejak itu pula, Nyak Muh telah menjadi guru bagi ratusan perempuan Aceh di antaranya mulai dari Aceh Timur, Lamno, Aceh Besar, serta Banda Aceh.
Nyak Muh tidak hanya fasih meniru motif tradisional. Dia juga bisa menciptakan kreasi baru dari kain yang dia tenun. Puluhan motif telah dia ciptakan. Salah satunya mulai dari motif pintu Aceh sampai ke motif bunga kertas.
Karena kepiawaiannya dalam menenun, Presiden Soeharto pernah menganugerahkan Penghargaan Upakarti di Istana Negara Jakarta pada 28 Desember 1991. Hasil karyanya juga pernah dijual dan dipamerkan di Jakarta, Bali, Srilanka, Singapura, dan Malaysia.
Dahlia menceritakan, dia masih duduk di kelas 2 SMP saat ibunya Nyak Muh mengikuti pelatihan penenunan songket Aceh pada tahun 1971. Ibunya membuka usaha tenun songket Aceh sebagai usaha untuk membantu keluarga. “Kami ini membuka usaha tenun songket, secukup-cukupnya untuk membantu keluarga karena usaha ini tidak berkembang pesat atau besar. Cuma usaha rumah tangga,” katanya.
Soal harga kain songket Aceh, kata Dahlia, bervariasi, tergantung bahan baku dan motifnya. Songket berbahan kain katun dihargai Rp800.000. jika bahan bakunya lebih banyak dan motifnya lebih rumit, harganya bisa sampai Rp1,5 juta. Sementara harga tenun berbahan sutra bisa mencapai Rp2 juta.
Dahlia selaku penerus dan juga perempuan satu-satunya di keluarga Nyak Muh mengatakan, omzet menenun yang mereka peroleh terkadang tidak menentu. Saat ini, dia berharap kepada pemerintah Aceh untuk memperhatikan para perajin. Salah satunya dengan membuka pelatihan sebagai bekal keterampilan bagi warga yang ingin belajar menekuni songket Aceh.