SURABAYA, iNews.id - Pada 1998, ratusan guru ngaji dan kiai di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur tewas dibantai oleh sekelompok orang menyerupai ninja. Pembataian keji berkedok membasmi dukun santet tersebut sampai saat ini belum terungkap, negara utang nyawa para guru ngaji dan kiai tak berdosa itu.
Kasus pembantaian kiai dan guru ngaji memang telah berlalu 24 tahun lalu. Tetapi, memori kelam itu tak kan pernah hilang, terutama bagi keluarga yang menjadi korban. Mereka menjadi yatim, janda bahkan sebatang kara karena ayah, suami, ibu dan orang-orang terdekatnya tewas dibunuh.
Anehnya, aparat penegak hukum, Polri, bahkan TNI tidak mampu menguak misteri pembataian keji tersebut. Sampai saat ini kasus pembunuhan yang disebut dilakukan sekelompok ninja itu tidak terungkap, baik pelaku, dalang, maupun motif yang melatarbelakangi.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi merilis, total terdapat 115 korban tewas di 20 kecamatan akibat tragedi berdarah tersebut. Sedangkan menurut data tim pencari fakta (TPF) bentukan Pengurus Besar (PBNU), jumlah korban lebih banyak lagi, 143 orang.
Dikisahkan dalam akun YouTube, Sarang Demit dan Bico Story, pembantian kiai dan guru ngaji di Banyuwangi berawal dari isu dukun santet. Saat itu, orang-orang yang dianggap sebagai dukun santet tiba-tiba didatangi dan dibunuh oleh orang tak dikenal yang mengenakan pakaian serba hitam, penutup wajah ala ninja, dan membawa senjata tajam.