BANDUNG, iNews.id – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi menyebutkan wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), merupakan salah satu kawasan yang sangat aktif secara kegempaan di Indonesia.
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 11.185 gempa bumi susulan pascagempa utama berkekuatan M7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Berdasarkan pembaruan data BMKG hingga Rabu (2/9/2026) pukul 05.00 WIB, dari total gempa susulan tersebut, magnitudo terbesar tercatat mencapai M6,2, sedangkan magnitudo terkecil M0,9.
BMKG juga mencatat sebanyak 36 gempa susulan dengan magnitudo di atas M5. Sementara itu, jumlah gempa susulan yang dirasakan masyarakat mencapai 165 kejadian.
Fenomena maraknya gempa susulan (aftershocks) yang melanda kawasan tersebut dipengaruhi oleh proses penyesuaian atau penstabilan kerak bumi pascagempa utama.
Kondisi tektonik kompleks di wilayah kepulauan tersebut menjadi alasan utama tingginya frekuensi guncangan gempa bumi.
Kepala PVMBG Badan Geologi, Rita Susilawati menjelaskan bahwa Flores berada di antara dua struktur tektonik besar yang sangat aktif. Di sebelah selatan Flores terdapat zona subduksi, tempat Lempeng Australia menunjam ke bawah Busur Sunda (Indonesia).
Sementara di bagian utara, membentang struktur Flores Back-Arc Thrust (Sesar Naik Belakang Busur Flores) yang memanjang mulai dari utara Bali, Lombok, Nusa Tenggara, hingga Flores.
"Kedua struktur geologi tersebut menjadi penyebab utama tingginya aktivitas kegempaan di wilayah Flores dan sekitarnya," ungkap Kepala PVMBG Badan Geologi, Rita Susilawati, Rabu (2/9/2026).
Rita menambahkan, rentetan gempa susulan di wilayah Flores hingga saat ini masih cukup banyak terjadi. Kendati demikian, berapa lama durasi berlangsungnya gempa susulan tersebut belum dapat dipastikan karena masih memerlukan analisis dan evaluasi berkala terhadap data pemantauan seismik.
PVMBG memastikan terus memantau pergerakan dan perkembangan aktivitas kegempaan di Flores secara real-time 24 jam guna memberikan pembaruan informasi yang akurat serta imbauan mitigasi bencana bagi masyarakat setempat.