Kini setelah dibuka lagi, Suminar akhirnya bisa meraup cuan kembali dari memulung sampah. Setiap hari dia dan suaminya mengumpulkan hingga 1 kwintal sampah yang bisa dijual seperti botol plastik.
"Hasilnya ini dijual lagi ke bandar. Alhamdulillah dapat Rp100.000 sehari berdua, jadi ada pemasukan lagi," ucap dia.
Hal senada diungkapkan Saepudin (46). Setelah mengetahui pengelola mengizinkan para pemulung beraktivitas lagi, akhirnya dia kembali lagi ke TPA Sarimukti setelah sebulan lebih menepi berada di kampung halamannya di Cianjur.
"Pas awal-awal kebakaran sempet bertahan dulu di sini, tapi akhirnya pulang kampung karena lama juga ditutupnya. Sekarang alhamdulillah udah dibuka lagi," ujar dia.
Dia mengatakan, memungut sampah yang memiliki nilai jual di TPA Sarimukti menjadi satu-satunya pekerjaan yang bisa dia lakukan sejauh ini. Sehingga ketika TPA Sarimukti ditutup, Saepudin pun otomatis kehilangan pendapatan.