Ibu Nafisa, Rumuyati mengatakan, awalnya dia sebagai orang tua sempat khawatir dan melarang Nafisa memanjat dinding. Namun, Nafisa tetap nekat setiap hari bermain panjat dinding rumah. Larangan dari orang tua tak dihiraukan sang putri.
“Awalya dari kecil memang dia suka naik lemari. Saya teriak-teriak karera takut kakinya luka. Sekarang dia malah panjat dinding rumah. Saya tegur karena namanya orang tua pasti takut kenapa-kenapa. Tapi dia nekat dan memang enggak pernah jatuh,” kata Rumuyati.
Rumuyati mengakui, Nafisa termasuk anak yang aktif dan suka beraktivitas fisik. Kebiasaan Nafisa memanjat dinding rumah membuat Rumuyati mulai melihat bakat putrinya. Namun, dia dan suami yang bekerja serabutan belum mampu mengarahkan Nafisa kepada aktivitas yang lebih terarah untuk mengembangkan bakatnya.
Sementara Kepala Desa Tengeng Wetan Rokhmat ternyata sudah mengikuti perkembangan Nafisa yang dianggap unik dan berbakat. Pihak desa berniat membina Nafisa agar minat dan bakatnya bisa disalurkan pada olahraga wall climbing. Nafisa bahkan dipandang sebagai bibit calon atlet wall climbing atau panjat dinding potensial dari Pekalongan.
“Semoga dia bisa menjadi atlet panjat tebing, dia sudah punya keahlian, tinggal bagaimana supaya dia mendapat pembinaan sejak dini supaya bakat dan kemampuanya terasah,” kata Kepala Desa Tengeng Wetan Rokhmat.