Gus Nabil juga mengingatkan para Pendekar untuk terus berkhidmat dengan cinta kasih serta akhlakul karimah kepada negara dan Nahdlatul Ulama.
Menurutnya, dengan keikhlasan dan kesungguhan berkhidmat, barokah para kiai bercucuran menemani aktivitas sehari-hari.
Gus Nabil juga menceritakan pengalaman pribadinya. Menurutnya, semakin serius ia berkhidmat, semakin mengalir barokah dan rejeki yang ia dapatkan. Sebaliknya, jika semangatnya kendor, maka rezekinya pun ikut kendor.
“Percayalah barokah para masyayikh kita tidak akan pernah habis. Berkhidmat di Pagar Nusa, berkhidmat di NU jangan takut menjadi miskin. Rezeki akan terus mengalir, jika kita ikhlas dan sungguh-sungguh,” ujarnya.
Menurut Gus Nabil, pendekar Pagar Nusa tidak pernah diajari kekerasan. Pendekar Pagar Nusa harus selalu mempergunakan kekuatannya selaras dengan akal dan hati nuraninya, agar selalu toleran dan ringan tangan dalam membantu, serta melindungi tanpa membeda-bedakan. Dia mengimbau agar pendekar Pagar Nusa tidak ugal-ugalan, anarkis dan tetap sowan kepada para kiai.
“NU dan Pagar Nusa besar bukan karena kita. Sebaliknya, kita semua besar dan berkembang karena berada di NU dan Pagar Nusa. Tetap rendah hati, jangan pernah merasa kitalah yang membesarkan NU, tapi merasalah NU yang membesarkan kita,” kata Gus Nabil.