Kisah Ki Ageng Cukil Wanakusuma, Rela Tinggalkan Keraton Yogyakarta demi Bergerilya Lawan Belanda

Angga Rosa
Dua orang warga sedang ziarah di makam Ki Ageng Cukil Dusun Krajan, RT 09/ RW 02, Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang. Foto/IST

Namun tak lama kemudian, Cukil meninggalkan pekerjaanya sebagai prajurit dengan alasan ingin berjuang membantu rakyat. Cukil tidak tahan melihat penderitaan rakyat akibat penjajahan Belanda. 

Ki Ageng Cukil berasal dari Magelang dan pernah menjadi prajurit di Yogyakarta. Karena kegelisahannya melihat penderitaan rakyat, Ki Ageng Cukil lantas meninggalkan Yogyakarta dan bergerilya menumpas Belanda bersama sejumlah pengikutnya. Selama bergerilya beliau juga menyebarkan syiar agama Islam. Hingga akhirnya sampai di tempat ini (Cukilan)," terangnya.

Di tempat yang kini bernama Desa Cukilan inilah, Ki Ageng Cukil membuat pesanggrahan hingga akhirnya beliau wafat. Sebelum wafat, Ki Ageng Cukil mengumpulkan para pengikutnya untuk berunding mengenai kelanjutan perjuangan dan pemberian nama pesanggrahan tersebut.

Atas usulan para pengikut, akhirnya diputuskan bahwa pesanggrahan yang mereka tempati tersebut diberi nama Cukilan. Hingga kini, masyarakat Desa Cukilan masih mengenang jasa Ki Ageng Cukil dengan melakukan tradisi Saparan.

Saparan dilaksanakan saat haul Ki Ageng Cukil Wanakusuma yang jatuh pada bulan Safar. "Kalau hari biasa, memang satu dua pengunjung yang datang, itupun tidak setiap hari. Baru ramai kalau pas ada tradisi saparan untuk mengenang haul Ki Ageng Cukil yang jatuh pada bulan Safar," ujarnya.

Soleh menjelaskan, dalam tradisi saparan tersebut, dimulai dari perjalanan usung usungan rangkaian sesaji (dhondhang) dari jarak satu kilometer menuju ke kompleks Makam Ki Ageng Cukil. Pada barisan paling depan biasanya diawali dengan sepuluh warga yang berpakaian menyerupai prajurit Wonokusuman.

Selama perjalanan, biasanya jumlah dhondhang makin bertambah banyak karena warga setempat yang sudah mempersiapkan dhondang ikut bergabung begitu iring-iringan persis di depan rumah mereka. Salah satu makanan yang tak pernah ketinggalan adalah ingkung (ayam yang dimasak untuk selamatan).
 
"Tradisi ini sudah berlangsung lama dan baru beberapa tahun belakangan dikemas dengan acara yang lebih menarik dengan menampilkan hiburan rakyat. Banyak pendatang dari luar daerah yang secara rutin mengikuti tradisi ini," ujarnya.

Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
8 hari lalu

Siswa SD di Ungaran Diduga jadi Korban Bullying Teman Kelas, Mimisan hingga Trauma

18 hari lalu

Perempuan Korban Jambret di Semarang Melawan, 3 Pelaku Diamuk Warga hingga Motor Dibakar

23 hari lalu

Aniaya Pedagang Cilok, 6 Anak Punk Babak Belur Dihajar Warga di Semarang

31 hari lalu

Kerangka Jenazah Mozza Axillia Tiba di Rumah Duka, Disambut Tangis Keluarga dan Pelayat

1 bulan lalu

Terungkap! Motif Pelaku Bunuh Mozza karena Cemburu, Jasad Dibuang di Tol Semarang

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal