Kisah Perajin Kaligrafi Mujtahid Al Fatah Berjuang Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

Angga Rosa
Mujtaid Al Fatah, perajin kaligrafi menunjukkan garapannya di tempat produksi, Desa Bener, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang. (Foto/Angga Rosa)

Dia menceritakan, ini dilakoninya sejak 2008 silam. Saat itu, dirinya masih mengajar di pondok pesantren di Klaten. "Awalnya saya menjualkan kaligrafi dari salah satu produsen. Saat itu, saya hanya keliling satu pekan sekali. Kemudian saya tekuni dan akhirnya bisa produksi sendiri," ujarnya. 

Pada awal produksi, ustaz yang akrab disapa Fatah ini, memasarkan kaligrafi ke sejumlah temannya kyai. Akhirnya, mereka tertarik untuk memasarkannya. 

Ternyata, laku keras. Kaligrafi buatan Fatah ini diminati konsumen lantaran garapannya halus dan tidak tidak ada penulisan huruf hijaiyah yang salah atau pun kurang. "Kalau dibanding dengan produsen lain, hanya beda tipis. Namun, tetap ada pembedanya. Selain lebih rapi dan penulisnya benar, kaligrafi saya memiliki ciri tersendiri. Saya juga menerima pesanan sesuai permintaan konsumen," katanya.

Meski telah menemukan teknik dan tulisan kaligrafi yang diminati, Fatah tetap menerima masukan dan kritikan dari berbagai pihak. Ini demi perbaikan kualitas produksi. "Saya juga terus bereksplorasi dan melakukan inovasi agar lebih baik dan konsumen bisa puas," katanya.

Sementara dalam memasarkan karyanya, selain melalui sales, dirinya juga memasarkan sendiri. Harganya juga relatif murah, mulai dari Rp300.000 hingga Rp6 juta. "Harga menyesuaikan ukuran dan tingkat kesulitannya," katanya. 

Fatah juga memasarkan kaligrafinya di pasar tiban di jalan lingkar selatan (JLS) Salatiga yang buka setiap Minggu pagi hingga siang. Di tempat itu, dia juga sering memberikan hadiah kepada anak-anak yang bisa membaca kaligrafinya dengan benar. 

"Anak-anak yang bisa baca, saya kasih satu kaligrafi. Tujuan saya, untuk menyemangati anak-anak agar rajin mengaji (baca Alquran)," ujarnya.

Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
15 hari lalu

Siswa SD di Ungaran Diduga jadi Korban Bullying Teman Kelas, Mimisan hingga Trauma

25 hari lalu

Perempuan Korban Jambret di Semarang Melawan, 3 Pelaku Diamuk Warga hingga Motor Dibakar

30 hari lalu

Aniaya Pedagang Cilok, 6 Anak Punk Babak Belur Dihajar Warga di Semarang

1 bulan lalu

Kerangka Jenazah Mozza Axillia Tiba di Rumah Duka, Disambut Tangis Keluarga dan Pelayat

1 bulan lalu

Terungkap! Motif Pelaku Bunuh Mozza karena Cemburu, Jasad Dibuang di Tol Semarang

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal