Gus Mus mengatakan, penerus bangsa dari Gerakan Pemuda Ansor tersebut diajak untuk mengingat dan mensyukuri nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada manusia. Menurut Gus Mus, terkadang manusia lupa mensyukuri nikmat Allah karena tidak sadar akan nikmat yang telah Tuhan limpahkan. “Mensyukuri nikmat diperlukan sebuah kesadaran atas nikmat yang telah Allah karuniakan,” katanya.
Ketua PC GP Ansor Kabupaten Rembang Hanies Cholil Barro' mengatakan, Kirab Satu Negeri digelar secara serentak untuk menolak ancaman kedaulatan bangsa dari kelompok-kelompok yang ingin mengubah konsensus nasional atas nama agama.
"Konsensus nasional itu adalah Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Ini harus kita jaga. Masyarakat jangan terpecah karena kelompok-kelompok tertentu, apalagi yang mengatasnamakan kelompok agama. Kelompok-kelompok itu tidak boleh dibiarkan berkembang, karena merasa besar dan benar dengan pemahaman sempit sebenarnya," katanya.
Selain itu, lanjut Hanies, Kirab Satu Negeri ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia berhasil merawat perbedaan, keberagaman, dan perdamaian.
"Kami ingin berikan inspirasi kepada dunia dengan keberagaman dan kebhinnekaan yang dimiliki, dengan segala perbedaan, Indonesia bisa damai, tenteram, bersatu, tidak ada gangguan, dibandingkan dengan negara-negara di Timur Tengah yang satu suku dan agama, tetapi berperang hingga hari ini," tandasnya.
Selanjutnya dari Rembang, Kirab Satu Negeri akan melintasi Kabupaten Pati, Jepara, Kudus, Demak, Semarang, dan Magelang. Kirab Satu Negeri dimulai serentak di Merauke Papua, Rote NTT, Miangas Sulawesi Utara, Nunukan Kalimantan Utara, dan Sabang Aceh. Kegiatan yang diikuti 1.945 peserta ini direncanakan berakhir di Yogyakarta pada 26 Oktober 2018, di mana akan digelar Apel Kebangsaan yang melibatkan sekitar 100.000 anggota Banser dan dihadiri Presiden Joko Widodo.