“Jika Anda sudah mengidap corona, lalu Anda nekat pulang, Anda bisa menulari teman seperjalanan di bus, orang-orang di jalan, keluarga, bahkan satu desa kena semua,” kata Ganjar.
Ganjar mengatakan, saat ini, ada tren peningkatan pengidap Covid-19 di Jateng. Dalam tiga hari, pasien terkonfirmasi positif melonjak dari 19 orang menjadi 40 orang dan sudah ada enam orang yang meninggal. Data terbaru yang diumumkan pemerintah pusat hingga Jumat siang, kasus Covid-19 di Jateng kembali bertambah tiga sehingga menjadi 43 kasus.
Sementara itu, jumlah orang dalam pengawasan atau ODP naik drastis hingga 3.638 orang. Kemudain, pasien dalam pengawasan 294 orang. Hal itu dikhawatirkan sebagai dampak kedatangan sejumlah perantau yang mudik lebih awal.
Data Pemprov Jateng, hingga 26 Maret 2020 sudah ada 66.871 orang dari berbagai provinsi yang yang pulang ke Jateng. Jumlah paling banyak di Wonogiri sebanyak 42.838 orang, kemudian di Kota Semarang dan sekitarnya 10.979 orang.
Lalu di Cilacap 4.527 orang, di Jepara tercatat 2.164 orang. Lainnya tersebar di Tegal, Pemalang, Pekalongan, Kudus, Pati, Grobogan, Purbalinga, Boyolali, Sragen, Kabupaten Magelang dan Karanganyar.
Ganjar mengatakan, dengan kondisi itu, semua bupati atau wali kota diperintahkan untuk memasukkan pemudik dalam kategori Orang Dalam Pemantauan (ODP). Dengan konsekuensi tersebut, semua pemudik harus mengisolasi diri mandiri selama 14 hari.
“Jika ada dari mereka yang sakit, maka mereka mudah untuk segera mendapatkan perawatan medis,” ujarnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Ganjar mengaku sudah berkomunikasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat dan nantinya Jawa Timur. Hal itu untuk memastikan perantau di daerah tersebut tetap di wilayah perantauan masing-masing.
”Untuk menjamin kehidupan warga di perantauan yang sudah tidak bisa bekerja, kami pun mengusulkan pada Gugus Tugas agar memberikan jaring pengaman sosial. Ada jaminan kebutuhan dasar untuk masyarakat selama menjalani social distancing di rumahnya masing-masing,” katanya.
Dia juga meminta warganya tidak menyepelekan Covid-19. Dia bahkan menyebut penyakit itu urusan hidup dan mati. “Ini masalah hidup mati. Karena itu, mohon jangan bersikap meremehkan. Jangan semaunya sendiri. Ini masalah kita bersama yang harus kita selesaikan juga dengan kebersamaan. Anda berdiam di rumah, kita semua sehat. Atau anda nekat, kita semua terancam tidak selamat,” kata Ganjar.