Tradisi Upacara Cowongan, Ritual Memanggil Bidadari untuk Turunkan Hujan

Tim iNews.id
Ritual tradisi Cowongan oleh masyarakat Banyumas. Foto: Screenshot Video Instagram @ir_achmadhusein

Titut menjelaskan, alasan upacara cowongan masih dilestarikan, agar anak muda zaman sekarang dapat dengan cerdas membaca alam sebagai media belajar dalam nilai kehidupan. Selain itu juga bangga terhadap leluhur. 

"Meskipun pada zaman dahulu belum ada pendidikan dan pemuka agama, namun para leluhur kita sudah mengenal cara berkomunikasi dengan sesama, alam, dan Sang Pencipta. Dari kebersamaan yang tercipta dalam acara tersebut dapat menimbulkan nilai kebahagiaan dan kemuliaan antar sesama," katanya.

Pada video tersebut, Titut menjelaskan beberapa rangkaian upacara Cowongan di Banyumas, di antaranya:

1. Upacara Cowongan dilakukan dengan seni pertunjukkan dari berbagai pelaku seni yang didukung oleh pernak-pernik hasil bumi.
2. Para petani dan rombongan arak-arakan membawa boneka Cowongan dengan bidadari yang dipandu sebagai gambaran utusan dewa yang nantinya akan menurunkan air hujan.
3. Sampai di lapangan, upacara pertunjukkan diawali oleh hiruk pikuk orang sebagai tanda kehidupan.
4. Pertunjukkan di lapangan dibawakan oleh orang tua yang kebingungan mencari hasil pertanian yang tidak ada akibat kemarau panjang.
5. Dilanjut pembacaan mantra-mantra dari para leluhur untuk memanggil bidadari yang dipandu dan diiringi oleh para punggawa. Selain itu, juga muncul rombongan yang menandakan sebagai penghuni alam gaib atas kejadian kemarau panjang. 
Diceritakan dalam pertunjukkan, para penghuni alam gaib mengusulkan kepada sang dewa untuk segera menurunkan air hujan agar tugas mereka mengganggu manusia dapat berjalan. Karena apabila manusia kekurangan air, musnalah mereka di bumi ini. 
6. Kehadiran alam gaib, bidadari, manusia, dan macam bentuk makhluk hidup lainnya memberikan nilai bahwa hidup saling berdampingan.
7. Setelah itu, turunlah hujan yang digambarkan dengan sorak dan kegembiraan para warga menyambut tumbuhnya tanaman bagi kehidupan keturunan selanjutnya. Maka dari itu, ritual tersebut menjadikan tanda syukur para petani dengan adanya air hujan. 

Arti mantra yang dicakan Titut dalam pertunjukkan tersebut merupakan nilai kasih sayang. Mantra tersebut menandakan adanya kasih sayang antar sesama, alam, dan Tuhan. Hal ini merupakan sebuah komunikasi luar biasa, karena petani sangat dekat dengan alam dan Sang Pencipta.

Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Kronologi Nenek dan Wanita Muda Tewas Mengenaskan di Banyumas, Cucu Kabur

57 tahun lalu

Nenek dan Wanita Muda Ditemukan Tewas Mengenaskan di Banyumas, Polisi Buru Cucu Korban

57 tahun lalu

Banyumas Geger! Nenek dan Gadis Muda Ditemukan Tewas Mengenaskan Dalam Rumah

57 tahun lalu

Pekerja Pariwisata asal Banyuwangi Ditemukan Tewas di Kamar Kos Gianyar Bali

57 tahun lalu

Duh! Pemuda di Banyumas Tepergok Masuk Rumah Kos, Diduga Foto-Foto Pakaian Dalam

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal