Menurut dia, dengan keterbatasan jumlah guru ini, pendidikan para murid tidak akan maksimal. Sebab, jika ada salah satu guru sakit, mereka yang berada di satu ruangan dari berbagai kelas terancam tak menerima materi pembelajaran. Apalagi, kalau kepala sekolahnya harus ada keperluan lain.
"Otomatis ditinggal. Daripada ada risiko, anak-anak dipulangkan, belajar di rumah," ujar dia.
Sementara itu, Anggota Komisi D DPRD Kabupaten Jember, Mochamad Hafidi mengatakan, sudah berulang kali dia meminta dinas pendidikan me-marjer sekolah yang siswanya sedikit dengan sekolah lain. Dengan begitu, proses belajar mengajar akan lebih optimal.
"Harus ada kebijakan yang diambil kalau melihat kondisi ini," kata Hafidi.