Pesan yang dia sampaikan kepada anggota keluarga almarhumah adalah tanggung jawabnya beliau yang selalu berpikir sangat tajam dan kritis serta selalu melihat persoalan sangat detail itu yang hari ini tidak mudah mencari sosok dengan tingkat ketajaman pemikiran dengan selalu bekerja detail dan teliti dan dengan tanggung jawab yang luar biasa.
“Beliau bisa menjaga konsentrasi dalam waktu yang sangat lama. Ini tidak mudah meniru keteladanan dari seorang Bu Nyai Hj Aisyah Hamid Baidlowi adinda Gus Dur,” ujar Ketum PP Muslimat NU empat periode ini.
Khofifah mengaku mendapat amanah yang cukup besar dari almarhumah. Sebab pada saat pergantian yayasan dulu, seluruh ketua dewan pembina itu dipegang beliau. Tetapi sebulan lalu ketua dewan pembinan dari 5 yayasan itu dilimpahkan kepada dirinya. “Dalam Undang-Undang Yayasan, ketua dewan pembina sama dengan owner yayasan,” katanya.
Tetapi, sebulan lalu Nyai Aisyah meminta Khofifah untuk meneruskan menjadi ketua dewan pembina yayasan tersebut dan hal itu disampaikan dalam rapat serta sudah dibawa ke notaris. “Badan hukum 5 yayasan dalam koordinasi Muslimat NU sekarang ketua dewan pembinanya semuanya dari Ibu Aisyah Hamid menjadi Khofifah,” tandasnya.
Sebelumnya diberitakan, adik kandung Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Hj Aisyah Hamid Baidhowi binti KH Abdul Wahid Hasyim meninggal dunia, Kamis (8/3/2018) sekitar pukul 12.50 WIB. Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat NU periode 1995-2000 itu tutup usia di Rumah Sakit (RS) Mayapada, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
Berdasarkan informasi keluarga, jenazah telah dibawa ke rumah duka di Jalan Bukit Pratama Raya A-9, Pasar Jumat, Lembak Bulus. Jenazah rencananya akan diterbangkan ke Surabaya, Jawa Timur pukul 22.00 WIB dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten, dan akan dikebumikan di Madrasatul Qur’an TebuirengTebuireng, Jombang, Jawa Timur.