Kisah ini dibahas dalam Kitab Pararaton dan Hikayat Raja-raja Pasai sebagaimana dikutip dari buku 'Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit'.
Saat itu, tak puas dengan penundukan Pasai, pasukan Majapahit terus bergerak menguasai daerah-daerah Timbalan, Siantan, Jemaya, Bunguran, Serasan, Subi, Pulau Laut Tiyoman, Pulau Tinggi, Pemanggilan, Karimata, Belitung, Bangka, Lingga, Riau, Bintan dan Bulang. Pasukan ini pun terus bergerak dengan hausnya untuk mencoba menguasai wilayah lain di Nusantara bagian barat.
Di sisi lain, pada naskah kuno Hikayat Raja-Raja Pasai dijelaskan bagaimana kebesaran Kerajaan Majapahit telah meresap di kalangan rakyat di Nusantara barat dan Malaya. Hingga suatu ketika, Majapahit berusaha menguasai Pulau Percah, sang raja Majapahit bermaksud mengirimkan tipu muslihat untuk menaklukkan pulau itu. Hal ini juga sebagaimana diceritakan dongengan tentang nama Minangkabau.
Raja Majapahit kemudian mengirim seekor kerbau yang istimewa besarnya bersama tentara Majapahit untuk diadu dengan kerbau Minang. Tetapi untuk melawannya, Datu Perpatih Sebatang mengajukan anak kerbau yang kelaparan. Setelah selesai adu kerbau itu, tentara Majapahit diundang berpesta.
Selama berpesta dan mabuk euforia itu, dengan serta merta pasukan Majapahit diserang dari segala macam penjuru. Akibatnya, tentara Majapahit pulang dengan hampa, kalah perang akibat terlena ajakan berpesta kerbau oleh penguasa yang dengan cerdik memanfaatkan kelengahan.
Kemudian daerah itu disebut Minangkabau, itu merupakan dongengan yang dimaksud untuk menerangkan nama tempat, karena tahu tentang sejarah nama, tempat atau toponimi. Tapi bagaimana pun tanpa menguasai menguasai Pulau Percah wilayah kekuasaan Majapahit telah begitu luas.
Usaha ini tak bisa dipisahkan dari upaya patih amangkubhumi Gajah Mada yang mengucapkan sumpah penyatuan nusantara pada tahun 1258 saka atau 1336 Masehi.