Mengenal Pararaton, Kitab yang Mengisahkan Perjalanan Raja Singasari dan Majapahit

Avirista Midaada
Ilustrasi peninggalan Kerajaan Singasari (Screenshot Kemdikbud)

Tokoh bernama Ken Arok merupakan cikal bakal Dinasti Rājasa yang mendapat porsi paling banyak dalam naskah ini dibanding para raja lainnya. Kisah kehidupan Ken Arok yang tertulis pada bagian awal Pararaton, banyak dibumbui mitos dan peristiwa ajaib yang terkesan tak nyata.

Misalnya, dia diceritakan mampu terbang menggunakan sepasang daun siwalan sebagai sayap, serta dari ubun-ubun kepalanya pernah keluar kawanan kelelawar yang menyerbu tanaman jambu milik gurunya. Namun, Pararaton juga mengisahkan peristiwa sejarah, yaitu Ken Arok menaklukkan Negeri Daha pada Šaka 1144 (1222 Masehi). Angka tahun ini ternyata cocok dengan yang tertulis dalam naskah Nagarakṛtāgama.

Berbeda dengan Nāgarakṛtāgama yang menyebut penulisnya dengan nama samaran Prapañca, sampai saat ini belum ada informasi siapakah pujangga yang pertama kali menyusun Pararaton. Sebenarnya ini tidaklah aneh karena pada umumnya naskah sastra berbahasa Jawa Pertengahan bersifat anonim, sebagai contoh, Kidung Harşawijaya, Kidung Rangga Lawe, Kidung Sorandaka, Kidung Sunda, dan Kidung Suņdāyana, semuanya anonim, tidak mencantumkan nama penulisnya.

Mengenai tahun pembuatannya, Pararaton yang diterbitkan JLA Brandes (1897) menyebutkan, naskah ditulis pada Śaka 1535 (1613 Masehi), sedangkan yang diterbitkan Agung Kriswanto (2009) menyebutkan naskah ditulis pada Šaka 1522 (1600 Masehi). 

Oleh karena ada dua versi angka tahun, dapat disimpulkan dua-duanya tahun penyalinan, bukan tahun penyusunan. Tapi kedua versi Pararaton yang bertahun Śaka 1535 maupun yang bertahun Śaka 1522 sama-sama ditutup dengan peristiwa gunung meletus pada wuku Watugunung tahun Śaka 1403 (1481 Masehi).

Peristiwa ini berselang 3 tahun setelah kematian seorang raja di istana Majapahit pada Śaka 1400 (1478 Masehi). Raja yang meninggal itu bukanlah raja terakhir Dinasti Rājasa karena masih ada Śrī Girīndrawardhana Dyah Ranawijaya yang namanya tertulis dalam Prasasti Pēțak bertahun Śaka 1408 (1486 Mase- hi). Anehnya, nama raja ini tidak disebutkan dalam Pararaton.

Dengan demikian, dapat diperkirakan Pararaton disusun sesudah tahun 1481 dan sebelum tahun 1486. Kemungkinan kedua, penulis Pararaton sengaja tidak mengisahkan Śrī Girīndrawardhana Dyah Ranawijaya, karena saat itu pusat pemerintahan Dinasti Rājasa sudah pindah ke Keling, tidak lagi di Majapahit.

Editor : Donald Karouw
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Arkeolog Temukan Situs Majapahit di Bawah Jalan Desa Mojokerto, Begini Wujudnya

57 tahun lalu

Mengulik Masa Kejayaan Bojonegoro di Balik Polsek Padangan Gedung Bergaya Kolonial

57 tahun lalu

Contoh Teks MC Pernikahan Islami Bahasa Jawa, Singkat dan Elegan

57 tahun lalu

Sejarah Masa Kejayaan dan Keruntuhan Kerajaan Majapahit akibat Perebutan Takhta

57 tahun lalu

Sengketa Tanah di Masa Majapahit, Ketika Pejabat Istana Kalah Gugatan Lawan Rakyat

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal