"Namun jangan sampai tujuannya untuk menyelesaikan masalah tapi malah memunculkan masalah baru. Di Cito Mall ini ada pedagang, penghuni apartemen dan kampus. Kemudian di balik tembok Cito juga ada permukiman padat penduduk," katanya.
Dia melanjutkan, pada tahun 2014 lalu pengelola rumah sakit sempat mengajukan izin. Namun, izin ditolak oleh wali kota Risma karena persoalan Amdal yang agak susah dipenuhi.
"Ini kok ujug-ujug kok mau dioperasikan untuk Covid-19. Tentu saja sangat membahayakan," ucapnya.
Imam meminta pada Whisnu Sakti Buana sebagai wali kota pengganti Risma agar khusnul khotimah dan mengakhiri amanat memimpin kota Surabaya dengan baik. Di akhir kepemimpinannya, WS diingatkan jangan sampai menimbulkan kesan negatif dari masyarakat.
"Sekali lagi jangan buru-buru, jangan dioperasikan dulu sampai semua dipastikan izinnya beres," ujarnya.
"Kemudian warga juga bisa dipahamkan bahwa rumah sakit ini aman. Kalau itu sudah dipastikan dan infrastrukturnya sesuai syarat monggo dioperasikan. Tapi tentu saja harus dikomunikasikan dengan masyakat yang tinggal di sekitar rumah sakit ini, termasuk pedagang," kata Imam.
Diberitakan sebelumnya, rumah sakit khusus penanganan dan perawatan pasien Covid-19 di Surabaya, bakal bertambah. Letaknya berada di perbatasan pintu masuk bundaran waru Surabaya, atau tepatnya di area Mal Cito. Meski berada di area mal, bangunan gedung yang digunakan untuk rumah sakit ini bersekatan sehingga diperkirakan tetap aman serta tidak mengganggu aktivitas publik lainnya.