"Penemuan ini merupakan sebuah artefak, disebut juga Jobong mungkin ada juga yang menyebutnya dengan perigi tapi umumnya di Jawa Timur itu disebut Jobong, yaitu dinding sumur," ujar Indra, Selasa (3/11/2026).
Proses penyelamatan tidak berjalan mudah karena kondisi jobong telah rapuh akibat termakan usia. Dua lapisan paling atas pecah ketika tanah di sekitarnya digali. Lapisan ketiga juga mengalami kerusakan, meski sebagian potongannya yang berukuran lebih besar berhasil diamankan untuk penelitian.
Sementara itu, lapisan keempat yang berada paling bawah tetap dibiarkan di lokasi karena dikhawatirkan rusak jika dipaksakan untuk dievakuasi.
Selain struktur jobong, petugas menemukan sejumlah pecahan bata merah kuno di dalam sumur. Ukuran bata tersebut memiliki kemiripan dengan material bangunan yang digunakan di Candi Pandegong, yang berjarak sekitar satu kilometer dari lokasi penemuan.
Kesamaan material itu menjadi salah satu petunjuk bagi arkeolog untuk menelusuri keterkaitan sejarah antara lokasi penemuan dan kawasan Candi Pandegong. Berdasarkan temuan awal tersebut, sumur kuno itu diduga merupakan bagian dari kompleks permukiman elite yang sezaman dengan Kerajaan Medang pada masa pemerintahan Mpu Sindok.
Meski demikian, usia dan keterkaitan sumur dengan permukiman elite Kerajaan Medang masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Sebagian potongan jobong telah diamankan sebagai sampel untuk kepentingan kajian arkeologi dan pelestarian.
Penemuan ini menambah petunjuk mengenai jejak kehidupan masyarakat kuno di wilayah Mojowarno, Jombang. Penelitian lanjutan diharapkan dapat mengungkap lebih jauh fungsi struktur sumur tersebut serta kaitannya dengan perkembangan permukiman pada masa Kerajaan Medang.