“TPID dan Satgas Pangan Kabupaten Kota agar memonitor dan memastikan ketersediaan bahan pokok di masing-masing wilayah. TPID juga harus mensosialisasikan Kapal Sabuk Nusantara untuk memudahkan tranportasi pangan antar daerah dan antar pulau. Ini untuk mengantisipasi ketersediaan pangan di Gorontalo,” ujarnya.
Selain itu, Darda berharap seluruh stakeholder terkait agar mensosialisasikan teknologi ozon kepada masyarakat. TPID kabupaten kota bisa mengoptimalkan BUMDES untuk pemanfaatan teknologi ozon ini. Sebab teknologi ini bisa menjadi solusi penyimpanan bahan holtikultura agar tidak cepat busuk.
Kepala Biro Pengendalian Pembangunan dan Ekonomi (P2E) Sagita Wartabone menambahkan bahwa berdasarkan perkiraan ketersediaan dan kebutuhan pangan pokok di Gorontalo sampai dengan akhir Desember 2020 dalam kondisi aman. Seperti beras, ketersediaannya surplus 2.047 ton.
Selain itu, komoditas pangan lainnya juga mengalami surplus antara lain minyak goreng sebanyak 15.620 liter, daging sapi beku sebanyak 5000 kg, serta 175 ton gula pasir akan segera masuk.
“Rata-rata stok pangan di Gorontalo surplus terutama beras. Karena saat ini masuk dalam masa panen,” ujar Kepala Biro P2E Sagita Wartabone.
Selain itu, Sagita mengungkapkan untuk bawang, rica dan tomat juga tersedia dalam jumlah banyak di Provinsi Gorontalo.
“Rata-rata sembilan bahan pokok itu surplus. Kecuali di Pohuwato seperti dilaporkan tadi ada beberapa misalnya minyak goreng dan juga gula yang sedikit kekurangan sehingga kita akan distribusikan beberapa produk itu ke arah Pohuwato agar di sana juga tersedia hal-hal yang dibutuhkan,” tuturnya.