"Sebulan setelah Trump pergi dan kami memiliki seorang saudara perempuan berjilbab yang memberikan konferensi pers di Gedung Putih," tulis Imraan Siddiqi, direktur eksekutif Dewan Muslim Hubungan Islam Amerika (CAIR) cabang Washington.
"Para Islamaphobia menangis," katanya seperti dikutip dari Al Araby, Sabtu (27/2/2021).
Shahed Amanullah, seorang pengusaha teknologi Muslim yang menjabat sebagai penasihat senior di Departemen Luar Negeri AS antara tahun 2011 dan 2014, juga mengungkapkan sentimen serupa.
Dia menggambarkan penampilan Fazili, putri imigran Kashmir, menunjukkan bahwa AS hanya dalam sebulan telah mencapai dari ketidakmampuan dan pengucilan hingga kecerdasan dan inklusi.
Aymaan Ismail, seorang jurnalis Muslim AS yang berfokus pada identitas dan agama, membandingkan penampilan Fazili dengan aktivis anti-Islam Brigette Gabriel, yang diundang ke Gedung Putih oleh Trump.