"Akibatnya, bayangan benda terlihat menghilang karena bertumpuk pada benda itu sendiri. Karena itu dikenal dengan hari tanpa bayangan," ucapnya.
Menurutnya, fenomena ini terjadi karena bidang ekuator bumi atau bidang rotasi tidak tepat berhimpit dengan bidang ekliptika atau bidang revolusi Bumi.
Sehingga, posisi matahari dari bumi akan terlihat terus berubah sepanjang tahun, antara 23,5 derajat LU s.d. 23,5 derajat LS. Hal ini disebut sebagai gerak semu harian matahari.
"Mengingat posisi Indonesia yang berada di sekitar ekuator, kulminasi utama di wilayah Indonesia akan terjadi dua kali dalam setahun dan waktunya tidak jauh dari saat Matahari berada di khatulistiwa," ujarnya.
Untuk wilayah Sumut, Hartanto menjelaskan fenomena ini akan berlangsung pada tanggal 13 September 2021. Namun fenomena ini tidak akan memberikan dampak langsung terhadap kondisi cuaca.