"Karena itu, Ansor mengajak masyarakat Indonesia untuk berani bersuara tentang konsensus kebangsaan dan Islam yang ramah, yaitu yang rahmatan lil'alamin," tandas Abdul Rohman seperti dikutip SINDOnews.
Dalam kesempatan tersebut, Abdul Rochman membacakan Seruan Nusantara yang dibuat dalam empat bahasa, yaitu Indonesia, Jawa, Arab, dan Ingggris.
Koordinator Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid menambahkan, GUF ini digelar Ansor sebagai perwujudan pengamalan warisan pemikiran kiai-kiai Nahdlatul Ulama (NU) di masa lampau dalam menegakkan Islam. Sebab saat ini, masih saja ada kelompok di Indonesia yang hanya berusaha menegakkan Islam dengan melupakan tiga ukhuwah, yakni ukhuwah islamiyah (persudaraan sesama muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama bangsa), dan ukhuwah basyariah (persudaraan sesama manusia). Padahal ketiga ukhuwah itu harus dilaksanakan bersama-sama.
"Hal ini seperti yang disampaikan pimpinan NU tahun 80-an, KH Ahmad Shiddiq. Yang secara khusus dan tegas menyampaikan, muslim Indonesia yang ingin menegakkan Islam rahmatan lil alamin harus menegakkan tiga ukhuwah dengan bersamaan tidak bisa dipilih salah satu saja," paparnya.
Executive Director American Islamic Congress, Zainab Al Suwaij asal Irak mengungkapkan, pengalaman menyedihkan bagaimana peradaban negerinya dihancurkan karena Islam digunakan sebagai senjata politik. Menurut dia, masuknya gerakan yang menyebar kebencian atas nama agama untuk meraih kekuasaan membuat peradaban di Irak hancur.
"Saya bersyukur di Indonesia warganya menerima perbedaan, saya berharap ini terus disuarakan untuk kedamaian dunia. Jangan sampai lagi orang datang atas nama agama dan menghancurkan semuanya," katanya.