Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura GKR Condrokirono mengatakan meski upacara Garebeg Besar ditiadakan, esensi dari garebeg tidaklah hilang. Esensi dari garebeg merupakan ungkapan rasa syukur raja yang diwujudkan dalam bentuk sedekah kepada kerabat dan rakyat.
"Pelaksanaan garebeg pada zaman dahulu memang dilakukan dengan membagi-bagikan ubarampe gunungan, bukan dengan merayah atau merebut gunungan seperti dikenal saat ini," kata putri kedua Raja Keraton Yogyakarta itu.
Condrokirono menjelaskan, prosesi pembagian ubarampe gunungan hanya diikuti abdi dalem dan kerabat dekat Keraton. Semua abdi dalem baik yang bertugas maupun yang mengikuti prosesi tersebut wajib memakai masker serta menjaga jarak sesuai protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19.
Upacara inti dalam pembagian ubarampe serupa dengan prosesi garebeg yang biasa dilaksanakan. Sebelum dibagikan, ubarampe lebih dahulu dirangkai dan diinapkan satu malam.
Jumlah ubarampe berupa rengginang yang dibagikan sama banyak dengan jumlah rengginang pada Gunungan Estri dan Gunungan Dharat saat upacara garebeg.
Usai didoakan Abdi Dalem Kaji, ubarampe gunungan yang terdiri atas 2.700 tangkai rengginang dibagikan kepada Abdi Dalem Keraton Yogyakarta, Kepatihan, dan Puro Pakualaman.