Pemerintah Iran mengakui negara itu menderita krisis mata uang asing akibat sanksi Amerika Serikat (AS).
Juru Bicara Pemerintah Iran Ali Rabiei mengumumkan dalam konferensi pers bahwa kenaikan harga barang terutama disebabkan oleh kekurangan mata uang asing akibat sanksi AS.
"Kami harus menerima bahwa kami tidak memiliki cadangan mata uang asing yang cukup, tetapi kami melakukan upaya ganda untuk mengamankan jumlah mata uang asing yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat," kata Rabiei.
AS menarik diri dari kesepakatan nuklir dengan Iran pada Mei 2018, dan kembali menjatuhkan sanksi pada Teheran pada Agustus tahun yang sama.
AS berdalih hendak menekan Iran menandatangani perjanjian baru yang membatasi pengaruh regionalnya.