Penataan Malioboro Diyakini Tak Mematikan PKL

Antara
Mantan Wali Kota Yogya meyakini penataan PKL di Malioboro tidak akan mematikan mereka, justru sebaliknya akan membuat leboh baik. (Foto : Antara)

YOGYAKARTA, iNews.id - Penataan kawasan Malioboro tidak akan mematikan aktivitas ekonomi para pedagang kaki lima (PKL) yang direlokasi ke Teras Malioboro 1 dan 2. Keyakinan itu disampaikan mantan Wali Kota Yogyakarta periode 2001-2011 Herry Zudianto. 

"Saya yakin (tidak mematikan PKL) kalau kita kelola dengan jiwa kewirausahaan," kata Herry Zudianto saat ditemui di Gedung PP Muhammadiyah, Jalan Cik Ditiro, Kota Yogyakarta, Kamis (3/2/2022).

Keyakinan Herry Zudianto ini didasarkan pada pengalaman kala dia merelokasi PKL yang menempati kawasan dekat Taman Pintar ke Pasar Giwangan pada 2004 serta PKL di sepanjang Jalan Mangkubumi ke Pasar Pakuncen pada 2007.

"Itu pernah saya buktikan, tidak ada yang saya pindah menjadi mati. Malah menjadi lebih besar semua. Saya punya konsepsi bahwa saya pindah itu bukan saya matikan. Begitu saya pindah ke Pasar Giwangan justru bisa jauh lebih baik," ucap Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) PP Muhammadiyah ini.

Menurutnya, dengan relokasi itu jika sebelumnya PKL berstatus nonformal dan keberadaannya tanpa perlindungan hukum, dengan pemindahan itu justru berubah menjadi pedagang formal yang legal.

"Saya itu dulu negosiasinya sampai tengah malam, saya yakinkan 'kowe bakal luwih apik' (PKL bakal lebih baik)," ucap Herry Zudianto.

Dia berharap penataan kawasan Malioboro yang tengah dilakukan Pemda DIY bersama Pemkot Yogyakarta dengan memindahkan PKL ke dua lokasi baru justru membuat Malioboro lebih maju serta memberikan dampak positif bagi pemilik toko maupun PKL.

Namun demikian, menurut Herry, Pemda DIY perlu meningkatkan promosi dengan meyakinkan pengunjung bahwa dengan penataan itu mereka akan lebih nyaman berbelanja sekaligus merasakan nuansa Malioboro yang lebih bersih dan indah.

Menurut Herry, penataan Malioboro sebagai etalase Yogyakarta tidak berhenti pada aspek ekonomi saja, melainkan lebih luas mencakup aspek seni dan budaya.

"Kalau bisa budaya Yogyakarta juga bisa tertransfer ke wisatawan yang berkunjung. Logikanya pengunjung yang ke Malioboro itu kan 78 persen orang luar," tutur Herry.

Editor : Ainun Najib
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Atap Kelas MTs Muhammadiyah di Sragen Ambrol, Belasan Siswa dan Guru Terluka

57 tahun lalu

Wali Kota Jogja Janji Kawal Kasus Kekerasan Daycare Little Aresha hingga Tuntas

57 tahun lalu

Temui Wali Kota, Orang Tua Korban Daycare Little Aresha Ungkap Kondisi Sang Anak

57 tahun lalu

Malioboro Diserbu Wisatawan Pascalebaran, Polisi Tiadakan Jam Bebas Kendaraan

57 tahun lalu

Lebaran Lebih Awal, Jemaah Muhammadiyah Bandung Salat Idulfitri di Lapangan Lodaya

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal