Turis, kata Sutantio, butuh toilet duduk. Mereka merasa janggal jika harus menggunakan toilet jongkok yang ada. Sehingga pengelola memilih bekerjasama dengan operator aplikasi untuk merenovasi total pengelolaan toilet.
“Untuk sementara ini dua titik, dalam waktu dekat kami ajukan lagi tiga titik toilet standar internasional,” ujarnya.
CSO Jamban, Anggie Ariningsih, mengatakan renovasi dilakukan pada sisi kebersihan dan interior agar turis nyaman. Hal ini sangat dibutuhkan bagi turis asing. Bahkan juga ada fasilitas wifi, monitor space iklan dan music. Untuk menggunakannya, harus menggunakan aplikasi lewat ponsel berbasis Android. Pembayaran tidak dengan uang tunai, melainkan memakai koin yang nantinya akan memperoleh nomor pin untuk bisa membuka pintu toilet.
“Ini baru dilaunching, dan saat ini ada 10 unit di Yogyakarta,” jelas Anggie.
Kasubbag Umum Dinas Pariwisata DIY, Rahmat Suabadi, mengatakan pihaknya menggandeng berbagai pihak untuk menggenjot pembenahan toilet standar internasional di sejumlah objek wisata, terutama di kampung atau desa wisata. Diantaranya yang sedang dibangun di Desa Wisata Mangunan, Tebing Breksi. Sedangkan di homestay Nglanggeran ada 80 homestay dengan toilet internasional, per homestay subsidi Rp 5 juta.
“Sesuai standar internasional, harus ada toilet duduk, kamar mandi pakai shower, bersih, kering, wangi dan ada tisu, sabun,” tuturnya.