5 Momen Olahraga yang Mengubah Peristiwa Dunia, Nomor 3 Terjadi di Kualifikasi Piala Dunia

Fitradian Dimas Kurniawan
Dua suporter sepak bola membentangkan syal bertuliskan Armenia-Turki. (Foto: Asianews.it)

3. Kualifikasi Piala Dunia 2010 Antara Turki dan Armenia

Dalam sejarahnya, publik Armenia menyimpan dendam kepada Turki. Hal itu menyusul genosida yang dilakukan oleh tentara Turki pada Perang Dunia I dan mengorbankan 1,5 juta nyawa warga Armenia.

Akibat kejadian itu, tidak ada hubungan diplomasi antara Armenia dan Turki selama setidaknya 90 tahun. Kedua negara kemudian harus berjumpa pada kualifikasi Piala Dunia 2010, karena sama-sama tergabung di Grup 5 wilayah Eropa.

Kedua negara bertemu untuk pertama kali di Hrazdan Stadium di Armenia, September 2008. Banyak yang memperkirakan pertandingan bakal berlangsung panas dan bertensi tinggi.

Namun, keadaan tersebut tidak terjadi. Sebaliknya, pertandingan itu menjadi awal dari persahabatan Turki dan Armenia, dengan presiden kedua negara ikut hadir di stadion.

4. Kematian Pangeran Akibat Bola Kriket

Kriket adalah salah satu olahraga yang digemari di Inggris, dan tak terkecuali Pangeran Wales, Frederick. Ketika tiba di Inggris pertama kali pada 1731 silam, Frederick sudah mulai menyukai kriket.

Pada 31 Maret 1751, Frederick terlibat pada sebuah pertandingan kriket. Namun, ketika itu dadanya terhantam oleh bola kriket, dan menyebabkan kematian putra dari raja George II.

Hanya saja, banyak yang memprediksi kematiannya akibat dari pneumonia. Namun, tidak sedikit yang menyebar kabar jika kematian Frederick adalah akiat bola kriket.

Akibat kematian Frederick, George III pun naik tahta. Padahal, seharusnya Frederick yang menjadi penerus George II. Namun, kematian tak terduga dari Frederick menjadi awal dari kegilaan George III.

5. Kerusuhan Nika

Di masa Romawi kuno, balap kereta menjadi tontonan massal yang paling populer. Pertandingan dramatis ini diselenggarakan kaisar untuk meningkatkan popularitas dan prestise mereka di mata rakyat.

Dengan risiko yang tinggi, maka tidak heran jika kusir pemenang akan mendapatkan hadiah yang fantastis. Bahkan, pemenang dari balap kereta ini turut menjadi arah bergeraknya politik.

Pada saat ibukota dipindahkan ke Konstantinopel, hanya ada dua: Hijau dan Biru. Dengan hanya dua pilihan, dukungan masing-masing tim menjadi sangat berpengaruh

Tak sekedar bertaruh, tim pilihan menjelma jadi pernyataan politik dan pilihan hidup. Pada tahun 501 Sebelum Masehi, Hijau menyerang biru dan membunuh 3.000 Orang.

Pada tahun 532 SM, situasi tegang meledak menjadi pemberontakan ketika Kaisar Justianus menindak kekerasan ini. Segera, kedua belah pihak bersatu dalam kemarahan.

Mereka melakukan kerusuhan sambil berteriak, 'Nika!' atau 'Menang!'. Teriakan ini lazim didengar di hippodrome atau arena pertandingan balap kuda. Para perusuh mulai membakar ibukota. Mereka bahkan menobatkan seseorang untuk menjadi kaisar saingan.

Editor : Dimas Wahyu Indrajaya
Artikel Terkait
Soccer
18 jam lalu

Timnas Iran Rugi Besar jika Boikot Piala Dunia 2026, Kehilangan Rp176 Miliar

Soccer
2 hari lalu

Momen Timnas Iran Vs Amerika Serikat di Piala Dunia, Penuh Respek!

Soccer
3 hari lalu

Keren! Timnas Indonesia Main di Piala Asia 2027 dengan Sistem Piala Dunia

Soccer
18 hari lalu

John Herdman Blak-blakan! Dukungan Besar untuk Timnas Indonesia Bisa Jadi Kutukan

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal