“Setiap pelari punya titik awalnya sendiri. Ada yang mulai dari 5K, kemudian berkembang ke 10K, sampai akhirnya berani mencoba Half Marathon seperti saya hari ini. Yang terpenting adalah keberanian untuk memulai dan terus berkembang,” ungkap Anggi usai menyelesaikan perlombaan.
Dukungan pelatih dan teknologi juga menjadi bagian dari persiapan Anggi. Dia menyebut proses tersebut membantunya berlatih secara lebih terukur, sekaligus memahami pentingnya konsistensi dalam mencapai kemampuan baru.
“Dengan dukungan ekosistem Garmin dan bimbingan pelatih, saya belajar bahwa langkah kecil yang konsisten akan selalu membawa kita pada batas kemampuan yang baru. Garmin Run menurut saya menjadi ruang yang tepat untuk merayakan perjalanan tersebut bersama-sama,” tambahnya.
Kisah Anggi menjadi salah satu cerita yang mewarnai semangat inklusivitas di Garmin Run 2026. Para peserta hadir dengan kemampuan dan latar belakang berbeda, mulai dari pelari elite, pelari difabel, hingga keluarga yang mengikuti perlombaan menggunakan stroller.
Setiap peserta datang dengan tujuan masing-masing. Sebagian ingin membangun kebiasaan hidup sehat, sementara peserta lainnya mengejar catatan waktu terbaik dalam perlombaan.
Bagi Anggi, perjalanan dari aktivitas mendaki menuju Half Marathon menjadi bagian dari proses untuk terus mengembangkan kemampuan. Setelah kehilangan kaki kanan akibat kecelakaan, dia tetap aktif mendaki dan kini mampu menuntaskan tantangan baru di lintasan lari.
Dari lebih dari 30 gunung yang sudah dia taklukkan hingga finis Half Marathon 21,1 kilometer di Garmin Run 2026, perjalanan Anggi Wahyuda menunjukkan pentingnya keberanian untuk memulai dan konsistensi dalam menjalani setiap tahap.