Dalam proses pengembangannya, sejumlah juara dan legenda bulutangkis Indonesia turut memberikan kontribusi simbolis. Mereka membubuhkan tanda tangan serta handprint pada foto-foto bersejarah yang akan dipajang di area museum.
Deretan legenda tersebut meliputi Rudy Hartono, Imelda Wigoena, Ricky Soebagdja, Icuk Sugiarto, Hariyanto Arbi, Hendrawan, Susy Susanti, Alan Budikusuma, Sigit Budiarto, Hendra Setiawan, Mohammad Ahsan, hingga Tontowi Ahmad.
“Kami membuat arena ruang terbuka yang bernama Starlight Plaza. Starlight Plaza menunjukkan para peraih medali emas Olimpiade dan Juara Dunia. Jadi jika Anda sang juara Anda dapat menunjukkan tanda tangan dan handprint di sana sebagai simbol kemenangan di level tertinggi,” kata Stuart.
Stuart menilai Qingdao menjadi lokasi strategis karena memiliki sejarah kuat di dunia olahraga. “Qingdao merupakan tempat yang terkenal karena di Olimpiade Beijing 2008, kota ini merupakan tempat penerbangannya. Kota ini adalah kota olahraga yang juga memiliki populasi pemain bulutangkis yang sangat banyak,” ujarnya.
Dia berharap kehadiran museum ini mampu menarik wisatawan dan pencinta bulutangkis dari berbagai negara.
“Kami berharap orang akan datang ke Qingdao bukan hanya untuk melihat sebuah kota yang indah tetapi juga untuk melihat museum dan belajar tentang sejarah bulutangkis, belajar tentang pemenang dan belajar tentang orang dalam olahraga kita. Museum ini harus menjadi sebuah pusat yang menarik orang untuk pertukaran sejarah dan budaya,” pungkasnya.