Berbeda dengan Bangkok, venue panahan di Nakhon Ratchashima menghadirkan tantangan teknis baru. Teodora Audi bersama tim sudah mencoba arena pertandingan untuk beradaptasi dengan kondisi lapangan yang tidak biasa.
"Biasanya kalau lomba di Bangkok. Jadi sekarang beradaptasi lagi karena (venue para panahan) tidak rumput, agak berpasir. Itu pengaruh, seperti kering dan kena debu," jelas Teodora Audi.
Di atas lapangan, Teodora Audi sudah memiliki gambaran kekuatan lawan, khususnya di sektor women compound. Meski begitu, dia menilai tantangan terbesar justru datang dari dirinya sendiri.
"Menurut saya, musuh terbesar tetap diri sendiri. Ya ada sih lawan yang tangguh, salah satunya dari Singapura. Dia bagus," ujar Teodora Audi.
Bagi Teodora Audi, target medali di Thailand memiliki makna personal yang dalam. Prestasi menjadi simbol perjuangan panjang sejak kecelakaan pada usia 17 tahun yang membuatnya mengalami kelumpuhan pada anggota gerak bagian bawah. Olahraga para panahan awalnya hanya menjadi terapi penguatan tangan yang disarankan orang tuanya.
"Membayangkan untuk menjadi Audi yang sekarang saja tidak pernah. Membayangkan bisa ke Paralimpiade juga tidak. Aku dulu di daerah saja masih seperti berat banget, masih banyak pikiran. Jadi sampai sini bersyukur dan berterima kasih," ungkap Teodora Audi.
"Kalau bisa nih, misal aku dapet medali nih satu, kalau bisa dibagi dicuwil-cuwil (dipotong-potong), maka kubagi ke mereka. Karena medali itu cuman satu, tapi orang di belakangnya tuh banyak banget yang mendukungku," imbuhnya.