Perbedaan paling terasa terletak pada kecepatan shuttlecock. Kondisi di Odense membuat Fajar/Fikri lebih banyak mengandalkan pukulan-pukulan pendek dan cepat ketimbang terlibat reli panjang.
"Dari segi permainan pasti ada perbedaan dengan pertemuan sebelumnya di Asian Games. Di Nagoya laju bola cukup berat sedangkan di sini kencang jadi tadi kami nggak banyak rally, lebih banyak pukulan satu-duanya dan mereka lebih kewalahan menghadapinya, mereka tertekan terus," ujar Fikri.
Strategi tersebut terbukti efektif mengatasi perlawanan pasangan Thailand. Fajar/Fikri mampu memaksimalkan karakter permainan cepat hingga menutup pertandingan dalam dua gim.
Kini, tantangan berikutnya menanti pasangan unggulan ketiga Indonesia tersebut. Fajar/Fikri bertekad menjaga fokus pada semifinal Denmark Open 2026, sekaligus membuka peluang membayar kekalahan dari Liang/Wang apabila kedua pasangan kembali dipertemukan.