Namun realitas di lintasan justru berkata sebaliknya. Marquez tampil dominan dan sukses meraih gelar juara dunia MotoGP ketujuhnya pada musim 2026.
"Pecco (Bagnaia) berasal dari grup Valentino Rossi, dan setelah mendengar semua yang mereka katakan di grup itu, dia meremehkan Marquez," tutur Paolo.
“Tahun sebelumnya, dia kehilangan gelar juara dunia meskipun memenangkan 11 balapan. Dia berpikir: 'Yang harus saya lakukan hanyalah mengurangi kecelakaan'. Tapi Marc adalah pembalap yang hebat di lintasan, dan itu membuatnya mengalami krisis," tambahnya.
Di sisi lain, Paolo Simoncelli tak ragu mengakui bahwa Marc Marquez adalah pembalap terkuat saat ini. Bahkan, gaya balap The Baby Alien mengingatkannya pada putranya, Marco Simoncelli, yang meninggal dunia akibat kecelakaan tragis di MotoGP Malaysia 2011.
"Saya tahu Marc adalah yang terkuat. Saya selalu menyukainya; dia berkendara dan berpikir seperti anak saya, dia tidak pernah menyerah dan selalu berusaha," tutur Paolo.
"Seandainya Marco tidak meninggal, kita pasti akan bersenang-senang. Kalian tahu kan bagaimana pertarungan dalam olahraga," pungkasnya.
Pernyataan Paolo Simoncelli ini semakin mempertegas betapa kehadiran Marc Marquez di Ducati menjadi faktor besar yang mengubah peta persaingan MotoGP, sekaligus menjadi tantangan terberat dalam karier Francesco Bagnaia.